^^
Kamu menyukainya
seperti kamu menyukai rembulan yang menggantung di atap kota. Kalian selalu
berbincang hangat mengusir bosan yang menghampiri. Hingga kalian lupa akan
waktu dan menghabiskan puluhan kuota hanya untuk chattingan. Dia memang sosok
yang menyebalkan. Tetapi lama-lama kamu menyukainnya. Ia seperti datang disaat
matahari tak lagi tampak. Menyinari separuh hati mu di kelamnya malam.
Membuatmu seperti hidup dan mengembalikan senyuman mu yang telah lama pudar.
Hingga kamu tak
dapat lagi menahan rasa yang mulai tumbuh di hatimu. Mulai menggerogoti hatimu
tanpa diminta. Yah.. laksana kobaran api. Terus memanasi perasaan. Tapi kamu
seperti punya sesuatu yang membuat rasa itu tak lagi panas. Kamu bisa merasakannya setiap kamu menatap
matanya.
Terkadang kamu
sebal dengan tingkah konyol mu didepannya. Selalu bertanya tentang kabar.
Tentang sekolah. Hingga ia bosan berbicara dengan mu. Anehnya, kamu selalu bisa
membuat orang lain tertawa, membuat orang lain nyaman dengan setiap humor yang
kau buat sendiri, membuat orang menahan pipis atau bahkan sakit perut melihat
tingkah konyol mu. Tapi tidak di depannya. Kamu seperti kaku. Hanya mampu
menatapnya dan waktu seperti berlangsung begitu cepat. Terkadang hanya
keheningan yang mengisi setiap pertemuan kalian. Tapi kamu tetap menghargai
waktu tersebut. Dengan begitu, kamu bisa
menatap wajahnya terus. Dan saat waktu pertemuan itu berakhir. Terbesit kecewa
di hati mu. Aku tak bisa lagi menatapnya.
Padahal kamu sudah berjam-jam memerhatikannya. Tanpa disadiri.
Kamu
menganggapnya, dia seperti rembulan. Menerangi
separuh hatimu di kelamnya malam. Mengajari mu tentang banyak hal.
Mengajakmu tertawa. Hingga mampu memecahkan kegugupan yang kamu buat. Dan
bibirmu mulai menyunggingkan senyuman.
Kamu beranggapan,
bahwa dia menyukaimu. Walaupun dia tidak mengungkapkannya. Kamu selalu melihat
gerak-geriknya. Melihat setiap respon ocehan cerewet mu. Membiarkan kan mu
berkicau walau dia sibuk sekalipun. Terkadang, kamu menyadari, bahwa ia sedang
memperhatikanmu dari kejauhan. Walau
sebenarnya itu belum tentu benar. Dia juga seperti pendukung dari setiap
mimpi-mimpi mu. Dan dia juga sering mendengarkan semua cerita-cerita mu yang
sebenarnya tidak perlu diceritakan. Tetapi
tidak tau dihatinya, apa ia begitu ikhlas, atau karena terpaksa.
Rembulan selalu
indah bagimu. Dan kamu selalu menemukan wajahnya yang terpantul cahaya dewi
malam itu. Hingga kamu bergumam. Aku adalah
bintang, yang menemanimu dikelamnya malam.
Pada suatu waktu,
kamu benar-benar tidak bisa menahan semua rasa yang tumbuh di hatimu. Dan kamu,
dengan gugupnya, menyampaikan rasa itu.
Diam-diam di
hatimu, berharap dia juga menyukaimu. Dan jika itu terkabulkan, kamu akan
senyum-senyum sendiri. Kamu akan pulang dengan wajah gembira. Lalu menyambar
telepon dan menelpon satu-satu sahabatmu tentang apa yang terjadi. Tidak peduli
sesibuk apa mereka. Tidak peduli sedang tidur atau bahkan ujian sekalipun. Satu
lagi, kamu akan merasa senang bukan kepalang.
Tapi jika takdir
berkata lain, tidak bisa dipungkiri. Dan cinta itu, bukan untuk dipaksakan.
“Aku gasuka sama kamu..” Jawab nya sambil tersenyum :)